Layaknya Judul Film “Surat Cinta untuk Starla”, BEC 2026 Berbalas Surat Cinta untuk Bupati dari Pelaku UMKM Blambangan

Surat Cinta Untuk Bupati dari Komunitas Blambangan Heritage street Comunity

BANYUWANGI – Layaknya judul sinetron populer Surat Cinta untuk Starla, kemeriahan Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026 juga berbalas sebuah “surat cinta”. Namun, surat kali ini bukan ditujukan kepada Starla, melainkan kepada Bupati Banyuwangi dari para pelaku UMKM di kawasan Blambangan.

“Surat cinta” tersebut berisi harapan, kegelisahan, sekaligus permohonan agar pelaksanaan festival besar di Banyuwangi tidak hanya menyajikan kemegahan panggung dan parade budaya, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi secara adil kepada pedagang kecil. Keresahan itu muncul setelah adanya Surat Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melalui Sekretariat Daerah bernomor 556/2440/429.110/2026, tertanggal 29 Juni 2026.

Inti dari surat yang ditanda tangani asisten perekonomian dan pembangunan Suratno itu, meminta semua UMKM, PKL, pedagang asongan, pedagang dadakan, dan pedagang sejenis diminta tidak melakukan aktivitas perdagangan di Taman Blambangan dan sekitarnya pada tanggal 17 - 25 Juli 2026.

Layaknya Judul Film “Surat Cinta untuk Starla”, BEC 2026 Berbalas Surat Cinta untuk Bupati dari Pelaku UMKM Blambangan

Ketua Blambangan Heritage Street Community, Agus Irawan, mengatakan pelaku usaha di sekitar kawasan Blambangan pada dasarnya mendukung penyelenggaraan BEC 2026 sebagai agenda budaya dan pariwisata unggulan Banyuwangi.

Namun, menurut Agus, semangat memajukan pariwisata harus berjalan seiring dengan upaya melindungi mata pencaharian masyarakat kecil.

“BEC adalah kebanggaan masyarakat Banyuwangi. Kami mendukung kegiatan budaya dan pariwisata tersebut. Namun, di balik kemeriahan festival, terdapat pedagang kecil yang berharap memperoleh kesempatan berjualan dan ikut merasakan perputaran ekonomi,” ujar Agus Irawan.

Ia menegaskan, istilah UMKM tidak hanya merujuk kepada pelaku usaha yang memiliki toko, gerai permanen, stan resmi, kemasan modern, atau akses langsung kepada penyelenggara kegiatan.
UMKM merupakan usaha produktif dengan skala mikro, kecil, dan menengah.

Dalam praktiknya, pedagang kaki lima, pedagang keliling, pedagang asongan, penjual makanan dan minuman, hingga pedagang mainan juga dapat menjadi bagian dari usaha mikro.

“Mereka yang berjualan menggunakan gerobak, pikulan, sepeda motor, meja sederhana, ataupun berjalan menawarkan dagangannya juga merupakan bagian dari ekonomi rakyat. Jangan sampai UMKM hanya dimaknai sebagai pedagang yang berada di dalam stan resmi,” katanya.

Agus menilai, penataan pedagang selama berlangsungnya kegiatan memang diperlukan untuk menjaga keamanan, kebersihan, keindahan, serta kelancaran lalu lintas. 

Akan tetapi, penataan tidak semestinya berujung pada pelarangan menyeluruh yang berpotensi menghilangkan pendapatan pedagang.

Pemerintah daerah dan penyelenggara, lanjutnya, dapat menyiapkan zona khusus bagi pedagang kecil, mengatur jenis dagangan, jarak antarlapak, jam operasional, kebersihan, serta jalur yang harus tetap steril.

“Pedagang tidak meminta dibiarkan berjualan semaunya. Mereka siap ditata dan mengikuti aturan. Yang diminta hanyalah ruang yang layak, manusiawi, dan tidak mematikan sumber penghidupan,” ujarnya.

BEC Week 2026 dijadwalkan berlangsung pada 16–19 Juli 2026 dengan berbagai agenda, mulai dari festival UMKM, perlombaan kreatif, kegiatan olahraga, pertunjukan seni, hingga konser musik.

Puncak Banyuwangi Ethno Carnival ke-13 akan digelar pada Sabtu, 18 Juli 2026, mulai pukul 13.00 WIB dari Taman Blambangan. Parade kostum etnik bertema “Perang Bayu” akan melintasi jalan protokol Banyuwangi.

Menurut Agus, keberhasilan penyelenggaraan BEC tidak cukup hanya dinilai dari kemegahan kostum, ramainya penonton, jumlah wisatawan, atau luasnya pemberitaan.

Dampak kegiatan terhadap penghasilan masyarakat, khususnya pedagang kecil di sekitar lokasi, juga harus menjadi bagian dari ukuran keberhasilan.

“Inilah surat cinta kami kepada Bupati Banyuwangi. Bukan surat kebencian dan bukan pula upaya mengganggu festival. Ini adalah suara masyarakat kecil agar mereka ikut diperhatikan dan diberi kesempatan menikmati manfaat ekonomi dari keramaian yang berlangsung di ruang publik,” tegasnya.

Blambangan Heritage Street Community berharap Bupati Banyuwangi dapat membuka ruang dialog dengan para pedagang dan komunitas setempat guna merumuskan pola penataan yang adil.

Sebab, sebuah festival akan terasa lebih bermakna apabila tidak hanya meninggalkan tepuk tangan dan dokumentasi yang indah, tetapi juga membawa pulang penghasilan bagi pedagang kecil dan keluarganya.

BEC 2026 pun diharapkan benar-benar menjadi pesta bersama—pesta budaya, pesta pariwisata, sekaligus pesta ekonomi rakyat Banyuwangi.

Arip